Wisata Edukasi Murah Meriah di Museum Keris



(Prasasti Afrisa)

SUAR berkesempatan mengunjungi salah satu museum yang baru diresmikan Presiden Jokowi Agustus 2017 lalu. Museum tersebut adalah Museum Keris Nusantara.

Museum ini terletak di jalan Bhayangkara, tak jauh dari Stadion Maladi Sriwedari. Harga tiket masuknya pun ramah di kantong. Cukup membayar 7000 rupiah, seisi museum dapat dijelajahi sepuas hati. Jika menunjukkan kartu pelajar atau kartu mahasiswa, harga tiket masuk hanya dibanderol 5000 rupiah saja. 

Siang itu museum tampak lengang. Hanya terdapat beberapa petugas yang berjaga dan beberapa pengunjung. Wangi bangunan masih tercium baru. Terasa saat berkeliling lantai demi lantai. 

Memasuki lantai pertama, pengunjung akan diarahkan untuk menitipkan barang bawaan menuju loker yang telah disediakan. Di sini pengunjung dapat melihat film pendek berdurasi 30 menit tentang cara pembuatan keris dan segala macam pengetahuan secara umum tentang keris di ruang audio visual. 

Museum ini digagas langsung oleh Presiden Jokowi yang saat itu masih menjabat walikota Surakarta. “Museum keris dibangun sebagai sarana untuk edukasi. Kita perkenalkan kepada masyarakat, terutamanya siswa-siswi sekolah bahwa kita punya benda bersejarah bernama keris yang harus dilestarikan. Dan mengenalkan bahwa keris bukanlah benda yang sarat akan hal- hal mistis”, jelas Yuanita, Staf Informasi Museum Keris Nusantara.

“Sering kami kedatangan rombongan anak sekolah yang study tour atau outing class. Kita juga memperkenalkan keris dalam berbagai bentuk, jenis, dan fungsi keris,” tambahnya.

Sedangkan di lantai dua, pengunjung bisa membaca koleksi buku yang ada di museum keris dan melihat berbagai keris kamardikan. “Keris kamardikan adalah keris yang dibuat pada masa setelah kemerdekaan. jadi masih tergolong keris baru,” tambahnya. 

Ketika disinggung seputar keris tertua, Yuanita mengarahkan SUAR untuk menjelajah ke lantai empat. Di sana, terdapat banyak koleksi keris-keris tua dari berbagai wilayah di Indonesia. “Kami mempunyai salah satu keris tua yang bentuknya tidak seperti keris pada umumnya yang berliuk, yaitu keris Bethok. Bentuknya agak pendek dan menyerupai pisau.”

Dengan adanya Museum Keris Nusantara, masyarakat diharap bisa memaknai filosofi yang terkandung di dalam keris. Pada ruang diorama di lantai tiga, pengunjung dapat melihat tata cara pembuatan keris. Filosofi pada sebuah keris bagi masyarakat Jawa mempunyai arti doa atau harapan.

Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk menciptakan sebuah keris. Pada zaman keemasannya, keris digunakan sebagai senjata untuk perlindungan diri dan melambangkan status sosial pemiliknya. “Kalau pada umumnya, masyarakat Jawa sekarang lebih memaknai keris sebagai pelengkap dalam berbusana, dan kita disini lebih mengedukasi bahwa keris tidak melulu digunakan sebagai jimat dan didewakan,” tutup Yuanita. 

Tradisi Jamasan di Bulan Suro

Ada yang unik di Museum Keris Nusantara saat bulan Suro, yaitu masyarakat dapat menyaksikan secara langsung proses memandikan keris atau jamasan. Acara ini ditujukan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang cara merawat keris. 

“Untuk keperluan njamasi, digunakan jeruk nipis dan sabun biar karatannya hilang. Digosok pakai sabut kelapa dan terakhir dicelup ke air warangan. Itu campuran air arsenik dan jeruk nipis. Setelah itu baru dikeringkan,” jelas Warsito, Kurator Museum Keris Nusantara. 

Masyarakat tampak antusias mengikuti jalannya prosesi jamasan tosan aji yang dilaksanakan setahun sekali. Fani (22) yang berhasil SUAR temui mengatakan, ini adalah kali pertama ia menyaksikan proses pemandian keris. 

“Awalnya saya berpikir acara jamasan keris itu sakral dan mistis, tapi setelah menyaksikan langsung, memang ternyata seperti itulah lumrahnya keris diperlakukan supaya tetap awet.” Perwakilan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta juga turut hadir dalam prosesi jamasan yang memandikan sebanyak 14 keris ini.[]

Komentar