Mengenal Sosok Alm. Budhy Djuhono dan Amal Baktinya untuk Nusa dan Bangsa di Bidang Perkebunan

(Paxia Lorentz)



HAMPARAN perbukitan lengkap dengan hutan-hutan yang belum pernah dijelajahi serta gemericik aliran sungai di kejauhan sudah merupakan hal yang kerap ditemui oleh para planters. Medan sulit yang hampir setiap hari dijajaki oleh para planters tentunya tidak dapat dilalui apabila mereka tidak memiliki mental baja dan stamina yang kuat.

Alm. Budhy Djuhono, B. Sc. adalah salah satunya. Beliau merupakan mantan inspektur PTP XI/PTPN 8 Bandung. Posisi terakhir yang beliau pegang tersebut tak lain tak bukan adalah hasil usaha selama puluhan tahun di bidang perkebunan.

Kakek kelahiran Surakarta, 1 Juli 1939 ini pertama kali mengenyam bangku pendidikan kelas 1 Sekolah Rakyat (SR) di Jatinom sampai dengan kelas 3 SD. Lalu pindah ke Solo dan meneruskan sekolah di HIS PGB (sekarang SDN 19 Kawatan, Surakarta). 

Pendidikan beliau pada kala itu masih terputus-putus karena Indonesia tengah berada pada situasi tidak aman dimana tentara-tentara KNIL Belanda kerap melakukan penyerangan dan juga penyerbuan terhadap rakyat sipil.

“Eyang waktu itu sempat tertangkap oleh Belanda juga...tapi anehnya justru yang kejam terhadap kita itu londo ireng-nya. Kalau orang Belanda aslinya baik...eyang dikasih roti dan juga susu sebagai upah mencuci tank mereka,”tutur beliau sewaktu beliau masih hidup kepada penulis.

Sewaktu kecil, beliau kerap sekali berpindah-pindah tempat tinggal untuk mengungsi. 

“Suatu waktu, saya dengan adik sepupu, Sarmono (Mayor Jenderal Purnawirawan) berada di Pasar Jatinom. Sialnya waktu itu pasar dibombardir dengan Howitzer Canon dari Klaten dan korban yang tewas sekitar 32 orang termasuk 1 orang tentara. Kami semua selamat. Kami sekeluarga mengungsi lagi ke Desa Karanggeneng, pindah lagi ke Desa Tulung, kemudian ke Desa Nglebak (daerah Boyolali). Dalam pengungsian, karena Bapak sibuk menghimpun dana untuk perjuangan, kami tidak pernah berkumpul dengan keluarga. Sehingga kami mencari makan sendiri. Saya menjadi pedagang asongan, ibu dan adik saya berjualan di pinggir jalan dekat pasar. Mbakyu saya menjadi pelayan toko sembako,”tulis beliau dalam autobiografinya.

Beliau tamat HIS (setara SD) pada tahun 1951. Kemudian melanjutkan untuk bersekolah di SMPN 5 Surakarta yang letaknya dekat dengan Pura Mangkunegaran dan begitu tamat beliau meneruskan ke SMA B yang ada di Margoyudan, Solo.

Sesungguhnya, setelah lulus dari SMA B, beliau telah diterima di Fakultas Teknik dan juga Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. 

“Zaman dulu cuma sedikit aja orang yang bisa kuliah, Nduk. Kebetulan saat itu uyut juga sedang susah, jadi eyang lepas UGM-nya,”tutur beliau.

Beliau juga sempat mendaftar sebagai kadet Angkatan Laut dan juga Zeni, namun hanya sampai pada tes tahap terakhir saja. Beliau pun akhirnya melanjutkan studinya di Akademi Pertanian yang baru dibuka di Solo.

Beliau harus pergi ke Yogyakarta untuk mengerjakan ujian akhir karena dosen-dosen pengujinya berasal dari UGM. Dari 30 peserta ujian, hanya 4 orang saja yang lulus dengan menyandang gelar B. Sc. (Bachelor of Science-sarjana muda).

Beliau bercerita semasa hidupnya dahulu, bagaimana pada zaman dulu lebih mudah untuk mencari pekerjaan dibandingkan dengan sekarang. Karena pada zaman dulu, perusahaan lah yang menawari pekerjaan, tidak seperti sekarang.

Beliau kemudian bekerja di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Kesatuan Jawa Barat V.
 
“Gaji pertama eyang kakung dulu Rp 1.400,00 mbak perbulannya...ada rumah dinas, asisten rumah tangga, lalu dapat sembako juga,”tambah Iim Rohimah, istri almarhum.

Eyangmu itu seorang workaholic,”tutur beliau. “Hampir seluruh tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk pekerjaan. Saya sering mengingatkan beliau, ‘Pak, jangan pernah mau menerima iming-iming dari orang lain. Korupsi juga bukan hal yang baik. Dosa, Pak’. Tapi memang eyang kakung engga korupsi, Mba...jujur kerjanya kalau beliau mah

Dituduh korupsi

            Hidup memang penuh dengan lika liku dan asam manis, salah satunya adalah saat beliau dituduh korupsi oleh karyawannya.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi, eyangti?”

“Sebetulnya sih cuma kesalahpahaman saja, Mbak...waktu itu di kantor eyang kakung tengah menghitung pembukuan, berikut beserta dengan pinjaman karyawan kepada perusahaan. Lalu, ada seorang petugas keamanan yang mencuri dengar dan mengira kalau eyangkung melakukan tindak korupsi. Hari itu juga beliau dipanggil oleh atasan untuk menghadap,”kisah Iim. “Eyang sampai tidak bisa tidur semalaman. Beberapa hari kemudian, barulah clear kalau eyang kakung memang tidak korupsi”

“Lalu, apa yang terjadi pada petugas keamanan tersebut?”

“Dia dipecat, tentu saja, karena telah memfitnah atasan tanpa landasan”

Kehidupan seusai pensiun dari Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Kesatuan Jawa Barat V

Beliau banyak dicari oleh perusahaan-perusahaan untuk menjadi konsultan mereka. Semisal menjadi konsultan di PT SMI Group Gadjah Tunggal selama 5 tahun. Pada tahun 2002, beliau pensiun penuh dengan menyandang penghargaan dari pemerintah, organisasi politik dan penghargaan bidang ilmiah.

Sebelum meninggal, beliau berpesan kepada para generasi muda agar tidak mudah putus asa dan melaksanakan tugas dengan baik serta selalu meminta ridho Allah SWT.

Beliau meninggal pada tanggal 12 Oktober 2015 dan dimakamkan di TPU Bonoloyo, Solo. Walau sudah meninggal, namun ajaran serta pesan-pesan beliau akan terus melekat di benak anak-cucunya dan kisah hidupnya dapat dijadikan pelajaran bagi para generasi penerus bangsa.



Komentar