Melirik Dunia Cosplayer dalam Mangafest UGM 2016

(Hirzi Fadlillah)



RIUH-RENDAH lautan manusia nampak memadati GOR Pemuda Klebengan Yogyakarta. Kerlap-kerlip sorot lampu senja itu menyerukan semarak pecinta budaya Jepang di Yogyakarta dan sekitarnya. Festival budaya Jepang yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang UGM pada 15-16 Oktober 2016 kini telah menempuh tahun kelimanya.
Suasana festival tersebut nampak meriah walau langit terkepung mendung. Warna-warni kostum kreasi peserta Cosplay Competition dari berbagai usia terlihat ramai menghiasi panggung. Lenggak-lenggok mereka tak kian lepas dari sorot mata para pengunjung.
Hiruk-pikuk cosplayer yang tampil membuat Mangafest UGM 2016 nampak meriah. Lengkap dengan wig serta aksesoris lainnya, para cosplayer berusaha menjiwai karakter yang mereka bawakan dari kostum yang mereka kenakan.
Natasha Catherine (19), cosplayer asal Solo ini senantiasa menikmati setiap detik dalam kostum yang ia kenakan. Ayunan pedang kayu bertahtakan styrofoam telah ia sulap menjadi cantik dan estetik. Tak jarang, satu-dua dari pengunjung tertarik untuk berfoto bersama Natasha. Date Masamune dari game Sengoku Basara merupakan karakter yang dibawakan olehnya.
Paras cantik serta kostum unik cosplayer senantiasa menuai decak kagum pengunjung Mangafest UGM 2016. Akan tetapi pada kenyataannya, persiapan cosplayer untuk tampil menawan dalam suatu festival tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pembuatan kostum dan aksesoris, pengaturan wig, serta pemakaian make up dan lensa kontak tidak membutuhkan waktu serta rupiah yang sedikit pula.
Pada setiap penampilannya, tampil segar merupakan kewajiban bagi Natasha. Lelah dan letih haram tercermin dari raut wajahnya. Peluh yang menetes terpaksa dihiraukannya. Satu dua kesempatan ia gunakan untuk menambahkan aroma parfum pada dirinya.
Dalam mempersiapkan diri menghadapi Mangafest saja, Natasha memerlukan waktu satu hingga dua bulan pengerjaan untuk kostum yang hendak ia tampilkan. Dana yang ia keluarkan pun dapat mencapai satu juta rupiah untuk setiap festival yang ia hadiri.
Akan tetapi, walaupun cosplay pada kenyataannya melelahkan, Natasha selalu menikmati setiap proses dan hasil apapun yang diperolehnya dari cosplay yang ia jalani. Mahasiswi S1 Manajemen FEB Universitas Sebelas Maret ini mengaku telah menekuni hobi uniknya sejak ia masih duduk di bangku SMA.
“Saya sudah cosplay sejak masih SMA kelas satu, dan memang sebenarnya saya tahu modal cosplay tidak sedikit, waktu tampil berjam-jam juga sebenarnya capek. Tapi memang tidak ada yang bisa menandingi rasa puas yang saya peroleh dari cosplay ini. Saya juga dapat banyak teman dan relasi” jelas Natasha.

Komentar