Tim Bengawan UNS, Perakit Mobil Listrik Masa Depan



(Anindya Aulia)

GEDUNG Pusat Pengembangan Mobil Listrik Nasional (Molina) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terasa lengang. Hanya sesekali terdengar suara mesin dari gedung tersebut. 

Di dalam gedung ada seorang mahasiswa yang sedang berkutat dengan mesin las. Di sinilah mobil hemat energi karya mahasiswa UNS dirakit. Mobil ini jadi salah satu inovasi yang diciptakan oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin UNS. Para mahasiswa ini tergabung dalam Tim Bengawan.

Tim Bengawan UNS terbentuk pada 2012. Mereka fokus ke tiga kategori: mobil hemat energi, unmanned vehicle (kendaraan tanpa awak), dan formula student (lomba balap mobil listrik mahasiswa). 

Pada awalnya, tim ini hanya membuat dan meriset satu buah mobil, yaitu mobil hemat energi. Mobil urban bensin jadi jenis mobil hemat energi pertama yang diriset. Kemudian, pada 2014 Tim Bengawan menambah satu model mobil lagi, yaitu prototype bensin. 

“Urban bensin adalah mobil yang digunakan untuk sehari-hari, kalau prototype ukurannya lebih kecil,” ungkap General Manajer Tim Bengawan, Aulia Majid. Pada 2015 Tim Bengawan lantas menambah satu mobil, lagi yaitu urban diesel. Urban diesel adalah mobil dengan bahan bakar solar. Akhirnya, Tim Bengawan fokus meriset tiga mobil hingga kini.

“Alumni Tim Bengawan dari tahun ke tahun, 2014 dan 2015, yang sudah lulus dari hemat energi, lalu mereka mendirikan Formula Student yang terbentuk pada tahun 2016. Formula Student setahun sekali mengikuti lomba di Jepang,” tambah Majid.

“Awalnya, kakak-kakak tingkat kami sejak tahun 2012 menginginkan setidaknya memunculkan nama Teknik Mesin di kancah nasional dan internasional, sehingga ingin membuat sesuatu yang membanggakan UNS.”

Tim Bengawan melakukan rekrutmen anggotanya setiap tahun, yaitu pada awal dan akhir tahun. Hal ini dikarenakan ada dua kategori, yaitu Formula Student dan Hemat Energi. “Proses pendaftaran dilakukan dengan pembagian, misalnya dibuka pendaftaran untuk hemat energi dulu, baru 3 bulan kemudian dibuka pendaftaran untuk formula student. Memang ada sedikit persaingan, tapi kami bekerja sama untuk mengantisipasi hal tersebut” ungkap Majid.

Pelaksanaan rekrutmen dibagi menjadi dua. Pertama adalah bagian teknis yang berisi divisi mesin, engine, body, chasis, dan desain. Para pendaftar tinggal memilih, lebih ahli di bagian mana, karena setiap rekrutmen teknis akan dibagi per divisi. Kedua, ada bagian non teknis yang berisi sponshorship, administrasi, dan public relations

“Tapi untuk non teknis kami bekerja sama untuk mencari dana yang kami butuhkan setiap tahunnya. Jadi memang ada divisi teknis dan non teknis,” tutur Majid. Hal ini dikarenakan kebutuhan dana Tim Bengawan selama ini masih bergantung dari universitas. Jadi, dana yang diberikan oleh kampus sebisa mungkin digunakan untuk membuat 3 mobil.

Butuh Dukungan

Sama seperti kemunculan produk inovasi lain, Tim Bengawan juga mengalami kendala. “Kendalanya, tim-tim dari kampus lain dari tahun ke tahun kilometernya selalu bertambah, dan kami mau tidak mau harus meriset mesin kami untuk lebih bagus dan lebih prima lagi,” Majid bertutur. 

“Kendala utama sebenarnya lebih ke dana itu sendiri,” tegasnya.

Selain itu, dukungan dari universitas juga sangat diharapkan oleh Tim Bengawan. Selain bantuan dana, pihak kampus akan memotong Uang Kuliah Tunggal (UKT) anggota Tim Bengawan jika mereka memenangi lomba.

Mobil hasil produksi Tim Bengawan juga butuh dikenalkan ke masyarakat. Selama ini pengenalan produk mereka baru sebatas presentasi ke sekolah-sekolah. “Untuk membawa mobilnya langsung ke SMA-SMA itu belum. Selama ini KMTM [Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin] UNS ada program pengenalan ke sekolah-sekolah, tapi masih sebatas presentasi, sejarahnya, dan sebagainya,” tutur Majid.

Sayangnya, selama ini belum ada perusahaan yang melirik mobil buatan tim Bengawan. Padahal, mobil buatan mereka sangat potensial untuk dikembangkan dan diproduksi massal.

Untuk inovasi yang lebih baik, Tim bengawan terus berusaha mengembangkan mobil hemat energi ini. Riset mesin, bobot, dan body mobil yang lebih aerodinamis terus dilakukan. “Saat ini tim-tim Indonesia sudah mencapai 300 km/liter, sedangkan kami dari tim UNS masih sekitar 213-250 km/liter. Mau tidak mau, kami harus riset ke mesinnya juga untuk lebih menaikkan lagi menjadi sekitar 300 km/liter,” Majid menambahkan.

Bagi Tim Bengawan, inovasi ini tentu sangat berdampak, terutama bagi universitas. “Kami benar-benar bisa mengimplementasikan materi kuliah kami ke sebuah riset dan produk tersebut,” kata Majid. “Jadi kami benar-benar belajar dari awal bagaimana cara merancang sebuah produk dan itu menjadi semacam kerja nyata, tidak hanya teori saja.”

Tim Bengawan juga sudah beberapa kali memenangkan lomba. Salah satunya pada bulan Maret 2017 kemarin, mereka mengikuti lomba di Singapura bertajuk “Shell Eco Marathon” dan mendapatkan juara 2. 

“Kami di Asia masuk tiga tim terbaik saat perlombaan secara global di London, Inggris. Jadi di Inggris ditandingkan tiga tim dari benua Amerika, tiga tim dari Eropa, dan tiga tim dari Asia,” tutur Majid.

Keberadaan Tim Bengawan juga menuai beragam tanggapan dari mahasiswa UNS. Salah satunya Sifa, mahasiswa jurusan teknik yang tergabung dalam staf non teknis Tim Bengawan UNS. 

“Timnya bagus, sering berprestasi, banyak yang ingin daftar open recruitment, bahkan ada juga yang dari Fakultas Kedokteran. Jadi orang luar antusiasnya cukup tinggi, mereka cukup tertarik sama Tim Bengawan,” tuturnya.

Selama ini publikasi yang dilakukan dari pihak UNS kepada pihak luar belum memuaskan. “Kalau dari media sosial, kami sudah disegani oleh universitas lain. Kampus hanya melakukan publikasi saat juara saja. Jadi harapan kami, kalah menang tetap di-support sama kampus, tidak hanya saat kami menang lomba. Selain itu kami juga mengharapkan dana yang digelontorkan bisa lebih banyak.” ungkap Majid.

Untuk beberapa tahun ke depan, Tim Bengawan UNS belum berencana mengganti energi yang digunakan untuk bahan bakar mobil. “Untuk mobil hemat energi belum ada rencana untuk mengubah ke sel surya atau yang lain. Karena sel surya lebih ke renewable energy, sedangkan Tim Bengawan menggunakan konsep hemat energi,” ungkap Sifa. 

“Jadi lebih fokus untuk menghemat energi yang ada sekarang ini, karena renewable energy masih mahal, kami bikin hemat energi supaya bahan bakar yang dipakai jauh lebih sedikit.”
Walaupun demikian, riset untuk mobil listrik sudah dilakukan dengan menciptakan mobil listrik bernama Molina. Mobil listrik Molina jadi mobil yang dibuat oleh peneliti-peneliti di jurusan Teknik Mesin, baik yang ada di jenjang S2, S3, bahkan dosen.
Semoga saja Molina lekas ngacir di jalanan. Ngeeenggg….[]

Komentar