Jurnalisme Damai Diperlukan untuk Tangkal Hoaks



Dari kiri: Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Idi Subandy Ibrahim, Jurnalis Anadolu Agency (AA), Dandy Koswara, dan Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley, dalam seminar Jurnalisme vs Hoax: Membangun Kesepahaman, Menghormati Perbedaan, di Grha Solo Raya, Jumat (25/11/2017) lalu. (Foto: solopos.com)



(Satya Adhi)

Surakarta, SUAR – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Idi Subandy Ibrahim, mengungkapkan bahwa praktik jurnalisme damai perlu lebih dikedepankan. Idi menjelaskan, bahwa peran jurnalis dalam menghadapi serangan hoaks dan konten-konten anti-toleransi sangat dibutuhkan.

“Hampir seluruh jurnalis keagamaan itu bias, karena mereka berangkat dari agamanya masing-masing,” ujarnya dalam seminar Jurnalisme vs Hoax: Membangun Kesepahaman, Menghormati Perbedaan, di Grha Solo Raya, Jumat (24/11/2017). 

Padahal, menurut penulis buku Komunikasi dan Komodifikasi ini, jurnalis adalah orang pertama yang jadi saksi sebuah isu atau peristiwa. “Jurnalis yang jadi mata pertama suatu peristiwa, jadi penentu bagaimana [memunculkan] keadaan yang damai,” tambahnya.

Sementara Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley, mewanti-wanti persebaran hoaks lewat media sosial. “Kecepatan membaca masyarakat Indonesia makin menurun, namun kemampuan menggunkan jempolnya semakin meningkat,” katanya. Ini yang kemudian mendorong tersebarnya berita palsu dan hoaks.

“Ada dis-informasi dan mis-informasi. Dis-informasi ujungnya provokasi, mis-informasi ujungnya hoaks,” kata Stanley.

Stanley menambahkan, kebanyakan jurnalis justru memanfaatkan kabar-kabar dari media sosial yang masih kabur, sebagai bahan beritanya. Hal tersebut membuat fakta-fakta tidak lagi akurat. “Ada penelitian yang menunjukan , 85 persen wartawan yang diteliti mengembangkan berita dari media sosial,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, konten-konten berisi hoaks dan berita palsu sudah jadi komoditas tersendiri. Situs arrahmah.com misalnya, meraup 1,4 miliar rupiah tiap bulan, hanya dengan mengunggah konten-konten anti toleransi. 

Arrahmah.com, media hoaks, mendapatkan 1,4 milliar per bulan sebelum diblokir. Padahal suara.com yang isinya jurnalis profesional, hanya bisa mendapatkan 120 juta per bulan,” ujar jurnalis Anadolu Agency, Dandy Koswara.

Menurut Dandy, jurnalisme damai dan keberagaman perlu dimunculkan dari ruang redaksi. “Untuk membangun kesepahaman, harus dimulai dari newsroom kita sendiri, bahkan sejak rekrutmen jurnalis,” jelasnya. 

Dandy mencontohkan, media tempatnya bekerja – yang notabene kantor berita Turki – menerima semua jurnalis dari ragam ras dan pemikiran. “Jurnalisme harus memberi ruang kepada minoritas, kepada keberagaman,” tukasnya.[]

Komentar