(Paxia Lorentz)
SEORANG
pemuda tengah duduk di beranda rumahnya. Matanya yang cekung menatap fokus ke
layar komputer yang ada di depannya. Rambutnya yang panjang sebahu dan kusut
masai ditahan dengan sebuah bando plastik berwarna hitam. Jika dilihat dengan
saksama, kedua mata hitamnya memancarkan kekhawatiran. Jemari-jemarinya menari
lincah di keyboard. Dan untuk sesaat
berhenti, memikirkan redaksional yang tepat.
Yudha (bukan
nama sebenarnya) adalah seorang mahasiswa tahun ketujuh di salah satu
universitas terkemuka di Surakarta. Berkali-kali ia sudah diperingatkan oleh
pihak kampus untuk segera menyelesaikan skripsinya. Yudha sendiri baru
mengerjakan proposalnya tahun lalu. Kini masih dalam proses penyusunan skripsi.
Ancaman drop out (DO) menjadi momok
tersendiri yang membayangi langkah Yudha.
Sebenarnya,
pihak kampus sudah men-DO Yudha tahun lalu. Namun, kedua orangtuanya menghadap
kepada Kepala Program Studinya. Memohon supaya putra kedua mereka dapat
diperbolehkan untuk menyelesaikan kuliahnya.
SUAR menemui
Yudha di kediamannya di Kecamatan Laweyan, Senin (1/5). Ketika ditemui, ia
bahkan masih berkutat dengan skripsi dan juga buku-buku yang berserakan di
meja.
Redaksional
berantakan. Kata-kata terbatas. Bahkan, teknik sitasi yang digunakan pun tidak
konsisten – berbeda antara satu dengan yang lainnya.
“Menyesal
saya, karena dulu jarang masuk kuliah,” tuturnya getir. Yudha mengungkapkan
bahwa karena hal itu, ia jadi kurang memahami apa yang tengah dilakukannya saat
ini. Selain itu, ia berkata bahwa dosen pembimbingnya kurang kooperatif karena
sering berpergian keluar kota.
“Salah saya
juga, karena dulu bisa dibilang ndak
pernah masuk di kelas yang diampu sama bapak dosen pembimbing saya. Jadi ya ndak heran juga sih kalau beliau jadi
malas sama saya,”ungkapnya.
Karena
alasan inilah, Yudha menggunakan jasa olah data skripsi. Ia mengatakan kepada SUAR bahwa akses untuk mendapatkan
informasi mengenai olah data skripsi ini sangatlah mudah. Baik disebar dari
mulut ke mulut ataupun diakses dari internet.
“Kalau
enggak begini, enggak jalan skripsi saya,” keluhnya.
Yudha lalu
terbatuk. Parah sekali. Ia lalu meminta maaf atas batuk parahnya tadi.
Alasan
kesehatan juga menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses penyelesaian
skripsi Yudha.
Yudha juga
berkata pada kami bahwa karena alasan kesehatannya itu, ia tidak kuat apabila
harus bolak-balik ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya, yang
belum tentu berada di kampus. Oleh karenanya, ia memilih menggunakan alternatif
lain, yakni penyedia jasa olah data skripsi yang kini berperan sebagai “dosen
pembimbing”-nya.
“Sekali
konsul per bab bayarnya seratus ribu. Tapi kalau bagian analisa data, mereka
minta bayaran dua ratus ribu. Ya mahal, sih. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya.
Ia lalu menenggak secangkir minuman jahe untuk meredakan batuknya.
Yudha adalah
satu dari sekian banyak mahasiswa di Surakarta yang menggunakan jasa olah data
skripsi. Presensi kehadiran yang kurang dari 75 persen, juga penyakit paru-paru
yang ia derita membuatnya memilih alternatif ini. Selain itu, ia terpaksa
menempuh jalan ini karena ancaman DO dari pihak kampus apabila tidak segera
menyelesaikan studinya.[]
Komentar
Posting Komentar