Ini Sosok Sastrawan yang Menginsiprasi Kerja Arsip di Indonesia



(Satya Adhi)

ARSIPARIS Warung Arsip Yogyakarta, Muhidin M. Dahlan, punya satu sosok yang menginspirasinya dalam melakukan kerja pengarsipan. Ia adalah Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan penggarap empat roman mahsyur Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Pramoedya memberi inspirasi kepada Muhidin untuk melakukan kerja pengarsipan.

Ketika Pramoedya berkunjung ke Jogja pada 2004, Muhidin bertanya kepada istrinya, Maemunah Thamrin. Muhidin penasaran, kenapa gunting kepunyaan Pramoedya penuh bebatan isolasi. Ya, macam gunting-gunting tukang fotocopy gitu.

“Dia itu tuh kayak anak kecil gitu. Ke mana-mana bawa gunting terus. Bentar lagi tuh dilepas (isolasi). Terus diganti lagi dengan warna merah,” kisah Maemunah kala itu.
Dari Pramoedya, Muhidin belajar kalau kerja pengarsipan adalah kerja gila. Kekanak-kanakan. Visioner. Dan sunyi.

Max Lane, aktivis cum dosen tamu Universitas Gajah Mada, bahkan menyesalkan kengganan pemerintah untuk mengajarkan Tetralogi Bumi Manusia di sekolah-sekolah. 

“Dosa besar!” Katanya lantang, tenang, di depan ratusan hadirin di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Agustus 2017 lalu.

Hadiran terhenyak. “Sastra Indonesia, pemikiran Indonesia sejak Kartini sampai ’65 tidak diajarkan di sekolah-sekolah menengah. Apakah memang saat ini pun Indonesia masih tidak hadir di Bumi Manusia?” lanjut Max.

Max Lane juga seorang pengagum Pramoedya. Ia baru saja meluncurkan buku kumpulan esai berjudul Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik. Esai pamungkas di buku itu menjelaskan secara rinci, kenapa kata “Indonesia” tidak hadir dalam empat jilid roman Tetralogi Bumi Manusia.

Di atas mimbar, Max berkisah tentang Adam Malik. Mantan Wakil Presiden era Orde Baru itu pernah berkata bahwa Tetralogi Pulau Buru sebaiknya jadi bacaan wajib buat semua pelajar sekolahan. Sayang, perkataan Adam tak pernah jadi ujud.

Sebuah ironi yang melankoli. Di luar Indonesia, kata Max, sumbangsih pemikiran Pramoedya bagi kajian sejarah Indonesia mulai diakui. “Di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, Tetralogi Pulau Buru sudah didaftarkan menjadi mata kuliah di perguruan tinggi dan diajarkan di sekolah-sekolah menangah,” lanjut Max.

Tetralogi Pulau Buru bukan hanya memikat dari segi penceritaan. Ia adalah roman soal kebangkitan kesadaraan nasionalisme Indonesia di awal abad 20. Disusun Pramoedya dari kepingan-kepingan kertas koran yang ia gunting dengan tangannya sendiri.

Kisah Pramoedya bisa menunjukan betapa sejarah punya nilai politis. Pada malam 13 Oktober 1965, segerombolan laskar yang dikawal tentara mengepung rumah Pramoedya dan membakar seluruh dokumentasi yang puluhan tahun dikumpulkannya. Kliping-klipingnya musnah.
Setelah diasingkan ke Pulau Buru dan pulang pada 1979, ia memulai kerja klipingnya dari nol. Muhidin menulis perkataan Pramoedya, “ini saya kerjakan sebagai konsekuensi pandangan saya sendiri: untuk dapat menintai tanah air dan bangsa.”

Ia mengisahkan, tiap pagi Pramoedya duduk di meja makan dengan gunting dan tiga koran hingga pukul tujuh. Kemudian membakar sampah dan berkebun. Sepulang dari kebun, ia menggunting lagi, menulis surat, dan sedikit melakukan kegiatan ringan.

Tidur selama dua jam hingga pukul dua siang, menerima tamu hingga pukul empat sore, Pramoedya kembali membakar sampah setelah itu. Keping-keping klipingnya ia tempelkan di atas kertas antara pukul tujuh sampai sembilan malam. 

“Semua dikerjakannya sendiri tanpa banyak bicara, hampir selama 30 tahun. Kliping yag terkumpul baru 17 meter tebalnya (saya mengukurnya secara manual dan seksama) dan tak pernah bisa berlanjut lagi karena ia keburu mangkat,” tulis Muhidin.

Kini, mayoritas pelajar di sekolah-sekolah hanya tahu sejarah Indonesia dari satu jilid tipis buku pelajaran Sejarah. Itu pun versi pemerintah. Bandingkan dengan Muhidin yang sudah sebelas tahun berusaha menyusun keping sejarah bangsa ini. Apalagi Pramoedya yang sampai sepuh tertatih-tatih sunyi bergulat dengan sejarah.

Seperti kata Pramoedya kepada Muhidin, “secara wajar orang dituntut tahu tentang yang dicintainya, tanah air dan sosio-grafisnya, bangsa dari sejarahnya. Kalau tidak, cintanya berhenti pada cinta monyet.”[]

Komentar